Tags

, , , , ,

Indonesia pernah mencoba untuk membuat mobil nasional. Sudah banyak proyek/program yang berusaha untuk mencapai cita-cita tersebut (Wikipedia dan Lensa Indonesia). Yang paling terkenal adalah Timor. Timor merupakan proyek kerja sama Indonesia dengan KIA dari Korea Selatan. Namun sayang, badai krisis Asia 1997/1998 memupus harapan untuk menciptakan mobil nasional pada saat itu. Lalu kemudian muncul mobil Esemka di tahun 2011-an. Impian memiliki mobil hasil karya anak bangsa sendiri sempat muncul lagi. Namun agaknya belakangan ini meredup gaungnya. Apalagi Pemerintah berencana meluncurkan program mobil hemat energi dan harga terjangkau/low cost green car (LCGC).

mobil_GEA
Langkah menuju program LCGC telah dimuali dengan terbitnya PP No. 41 Tahun 2013 tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang Dikenai Pajak Penjualan Barang Mewah. Dalam PP itu, LCGC akan mendapat insentif berupa dasar pengenaan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPn-BM) sebesar 0% (nol persen) dari Harga Jualnya. Dengan kata lain, bebas PPn-BM, sehingga harga bisa menjadi lebih murah. Dengan kondisi industri otomotif yang dikuasai perusahaan otomotif asing, bukan tidak mungkin mereka lah nantinya yang paling menikmati insentif untuk LCGC. Industri mobil akan dikuasai perusahaan asing. Sementara impian akan mobil nasional semakin terkubur.

Bukan berarti program LCGC tidak bermanfaat untuk pelaku industri otomotif dari dalam negeri. Kewajiban kandungan komponen lokal dan perakitan di Indonesia bermanfaat untuk mengembangkan industri dalam negeri. Akan tetapi, kemampuan untuk membuat komponen dan merakit apakah cukup untuk menciptakan mobil nasional?

mobil-esemka-rajawali-rakitan-murid-smk-negeri-2-surakarta-dan-s-201201031414147815

Di luar pembahasan  itu, mari coba kita pikirkan perlu nggak sih mobil nasional itu? Jika dipandang mobil atau kendaraan bermotor lainnya sekedar kebutuhan transportasi, yang penting adalah ketersediaan dan keterjangkauan dari sisi harga. Tidak peduli siapa yang membuat. Isu hemat energi nanti menjadi penyedap. Maka, wajar jika kemudian munculnya program dan insentif LCGC. Toh industri otomotif, walaupun dikuasai asing, tetap memberi kontribusi besar kepada perekonomian nasional. Coba hitung saja berapa kontribusi pajaknya, penyerapan tenaga kerja, plus multiplier effectnya (kemacetan yang ditimbulkan diabaikan saja, hehehe). Maka, mobil nasional tidak perlu.

Namun, jika urusannya adalah nasionalisme dan kemandirian, maka mobil nasional perlu. Saya kan bangga jika punya mobil yang “Indonesia”, dengan kualitas yang setara dengan produk dunia. Mesin hasil engineering orang Indonesia, desain orang Indonesia, diproduksi di oleh perusahaan yang dimiliki orang Indonesia. Sampai nama mobilnya nama Indonesia atau bahasa daerah sepertinya tidak masalah (Porsche saja memakai “Macan”, Lamborghini punya konsep “Madura”).

Kita mungkin tidak pernah berpikir akan bermusuhan (lagi) dengan Jepang, Jerman, atau AS, sehingga mereka (dkk) mengembargo/memboikot Indonesia, termasuk produk otomotifnya. Embargo otomotif dalam asumsi saya memang tidak akan membuat kita “mati”. Kalau cuma otomotif, gampang diakali dan dicari jalan keluarnya ~ (tapi dampak fiskal dan ekonominya? sepertinya dahsyat).

Saya berkeyakinan sebenarnya bangsa Indonesia mampu untuk sekedar membuat mobil (bikin pesawat canggih saja bisa ~ IPTN N250). Bahkan, tidak cuma yang berupa hasil rakitan dengan komponen dari mana-mana. Hanya saja, kemampuan itu perlu diwujudkan dengan sesuatu yang nyata: mobil nasional. Sepertinya, hanya kesempatan yang belum ada.

Jadi, perlu kah mobil nasional? Saya masih memimpikan.

***

Advertisements