Tags

, ,

Rabu, 3 Oktober yang lalu saya mengalami kecelakaan saat mengendarai sepeda motor untuk berangkat ke kantor. Saya sedang melaju kencang di lajur kanan untuk menyalip kendaraan, beriringan dengan sepeda motor di depan saya. Kecepatan sekitar 70 – 80 km/jam. Motor di depan saya melambat dan saya terlambat mengantisipasinya. Panic braking. Tuas rem depan dan belakang ditekan bersamaan berharap motor segera berhenti atau melambat dan tidak menabrak motor di depan saya. Namun….

Saya tidak tahu apakah saya menabrak motor di depan saya. Saya melayang, terpelanting. Lalu jatuh terguling di aspal. Semua berlalu begitu cepat. Setelah berhenti berguling, saya duduk. Mencoba menelaah apa yang telah terjadi. Saya istighfar, astaghfirulloh… Saya jatuh dari motor. Saya kemudian bangun menuju ke arah motor yang jatuh ke kanan. Tampak spion kanannya patah. Alhamdulillah, tidak ada yang pecah berantakan. Pun yang jatuh hanya motor saya dan saya sendiri. Sepertinya tidak terjadi tabrakan beruntun yang biasanya terjadi kalau ada yang merem mendadak. Alhamdulillah….

Saya sendiri merasakan sakit ngilu di bahu kiri, semacam bahu saya geser/dislokasi. Tangan kiri masih bisa digerakkan dan meminggirkan motor dibantu seorang warga. Dengkul kiri lecet, celana bagian dengkul kiri  sobek jahitannya dan koyak karena gesekan dengan aspal. Dengkul kanan lecet namun tidak separah dengkul kiri. Celana pada bagian itu koyak.

Saya meminggirkan motor ke kiri. Memasukkan patahan spion ke bagasi. Pengendara motor yang di depan saya tadi menghampiri. Menanyakan apakah saya tidak apa-apa. Saya jawab tidak apa-apa, cuma bahu kiri yang terasa sakit, mungkin patah atau geser. Saya minta maaf karena barangkali dia tertabrak karena saya tidak bisa ngerem dengan tepat. Saya perhatikan bagian belakang motornya, tidak tampak kerusakan yang berarti. Alhamdulillah… Saya persilakan dia yang mau melanjutkan perjalanan. Saya maupun dia tidak saling menuntut ganti rugi. Dia (sepertinya) tidak mengalami kerusakan apa-apa, baik badannya maupun motornya – karena cuma saya yang jatuh. Saya kurang begitu mendengar dia ngomong apa karena……. saya memakai headset!

Ya, headset! Pada kali ini, boleh lah penyebab utama saya jatuh karena kurang konsentrasi dan kewaspadaan karena mendengarkan musik saat naik motor. Saya hanya mengandalkan visual alias penglihatan mata, yang agak berkurang karena kacamata yang terbaru lepas lensanya dan terpaksa menggunakan kacamata lama yang nggak pas ukurannya. Saya melaju kencang dengan mengandalkan sinyal lampu rem kendaraan di depan saya jika dia melambat. Kebetulan waktu itu saya memang merasa kayaknya ada yang nggak beres dengan lampu rem motor di depan saya yang selalu kelap-kelip. Tidak diketahui pasti lagi ngerem apa enggak.

Saya duduk di pinggir jalan. Memberi kabar ke istri kalau saya mengalami kecelakaan dan minta bantuan untuk dijemput. Alhamdulillah, lokasi kecelakaan masih tidak terlalu jauh dari tempat tinggal. Saya jatuh di Jatiwaringin sebelum Kampus Unkris, tempat mertua saya mengajar. Sementara saya tinggal di Jatimekar.

Pelajaran berharga dari kecelakaan ini:

1. Jangan gunakan headset saat mengendarai motor untuk mendengarkan musik, murottal, atau menelepon. hal itu bisa mengurangi kewaspadaan pada kondisi sekitar dan mengurangi konsentrasi. Jika menerima telepon atau hendak membalas SMS, lebih baik menepi dulu dan berhenti.

2. Pastikan lampu rem kendaraan anda berfungsi dengan benar. Lampu rem berfungsi sebagai sinyal bagi kendaraan di belakang kalau anda sedang mengerem atau melambatkan kendaraan.

3. Selalu asah kemampuan berkendara, terutama jika menghadapi kondisi panic braking. Jangan berlebihan mengerem pada roda depan atau belakang saja. Terlalu lebih di rem depan; motor terjungkal. Berlebihan di rem belakang, motor ngesot dan tidak bisa berhenti dengan tepat.

Kerusakan pada Si RoRo

IMG00380-20121004-0725IMG00383-20121004-0725

IMG00382-20121004-0725IMG00385-20121004-0726

IMG00386-20121004-0726IMG00387-20121004-0728

Advertisements