Pagi ini saya berangkat ke kantor naik sepeda motor, seperti biasa. Sampai di akses Gerbang Tol Pondok Gede Barat, saya agak heran karena ada bus P9A Bekasi – Senen yang melintas. Oh, mungkin sedang macet parah. Terus jalan, saya menjumpai 2 bus P9BT Bekasi – Kampung Rambutan. Parah banget ya macetnya di tol?

Setelah sampai di kantor dan memarkir motor, saya membuka Facebook menggunakan handphone. Ada status dari TMC Polda Metro Jaya menyebutkan ada pemblokiran jalan tol di Jatibening. Oh, pantas aja bus-bus lewat di jalan yang tak semestinya. Setelah membaca berita, ternyata pemblokiran diwarnai dengan pembakaran mobil operasional milik Jasa Marga. Pemblokiran dilakukan oleh warga karena akses ke tol “Terminal” Jatibening yang biasa digunakan oleh pengguna angkutan umum ditutup. Hal itu memicu kemarahan warga karena “terminal” itu tempat menggantungkan hidup banyak warga. Ditutupnya akses berarti banyak warga yang kehilangan penghasilan serta banyak pengguna angkutan umum yang terhambat perjalanannya.

***

“Terminal” Jatibening merupakan tempat turun naik penumpang angkutan umum di tempat yang dulunya Gerbang Tol Pondok Gede Timur/Jatibening ~ sekarang sudah diruntuhkan dan dibangun taman. Keberadaan pembehentian angkutan umum di tengah jalan tol tentu saja ilegal dan mengganggu lalu lintas jalan tol. Namun, keberadaannya memang sangat membantu para penumpang angkutan umum dan warga sekitar untuk memperoleh nafkah dengan menjadi tukang ojek, penjual makanan dan minuman, maupun tempat penitipan sepeda motor.

Saya sendiri kadang turun di Jatibening karena merupakan tempat terdekat dari rumah jika naik bus. Sebenarnya, ada bus yang langsung ke Jatiasih dari Senen (AC24A). Namun, keberadaannya jarang dan kadang harus menunggu waktu lama. Bus-bus dari Jakarta tujuan Bekasi yang melewati Tol Jakarta – Cikampek biasanya keluar di Gerbang Tol Bekasi Barat atau Bekasi Timur. Warga di sekitar Jatibening yang naik bus tersebut semestinya keluar di sana; dan itu cukup jauh. Mungkin ini lah yang melatarbelakangi munculnya “terminal” Jatiasih. Entah siapa yang memulai.

Sebenarnya, disayangkan juga kenapa hal itu dibiarkan sejak awal sehingga menjadi seperti sekarang ini. Tempat itu sekarang menjadi tempat banyak orang menggantungkan hidup. Kalau keberadaan “terminal” itu dihentikan, banyak orang yang akan terpengaruh. Kalau ditutup, bagaimana nasib mereka? Pengguna angkutan umum di situ mungkin juga enggan pindah ke alternatif angkutan lain. Mereka butuh angkutan yang cepat dan juga hemat yang mungkin tidak didapatkan selain melalui “terminal” itu.

Menurut saya, paling tidak ada 2 hal yang harus diselesaikan kalau “terminal” itu ditutup. Pertama adalah masalah sosial ekonomi warga yang menggantungkan hidupnya di situ (termasuk angkutan umum yang memanfaatkan “terminal”). Yang kedua adalah penyediaan sistem transportasi bagi warga di sekitar Jatibening sebagai pengganti ditutupnya terminal (harus mudah diakses, cepat, dan tidak lebih mahal). Saya pikir, masalah “terminal” Jatibening ini bukan hanya masalah Jasa Marga. Pemerintah mestinya turut memperhatikan nasib warganya.

Apa nggak sekalian aja dibangun Terminal Jatibening di sana?

Update:

Jasa Marga akan Bentuk Area Khusus Pemberhentian Penumpang di Jatibening

Kutipan berita:

Warga Jatibening melakukan demonstrasi besar-besaran, Jumat (27/7/2012) pagi dengan memblokir jalan tol Jatibening karena mereka tak terima terminal bayangan di sana ditutup. Setelah melakukan negosiasi dengan warga, pihak Jasa Marga selaku pihak terkait tetap akan menutup terminal bayangan dan membentuk sebuah area khusus untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.

Advertisements