SE Cybershot, Ponsel Keren pada Eranya

Tags

, , ,

Cybershot merupakan merk kamera saku digital buatan Sony. Jika digabung dengan telepon selular, maka jadilah Sony Ericsson (SE) Cybershot. Pada zamannya, SE Cybershot merupakan ponsel yang keren. Sesuai namanya, SE Cybershot mengandalkan fitur kamera. Desainnya pun mirip kamera digital di bagian belakangnya, terdapat tombol shutter manual, penutup lensa yang biasanya bisa digeser sekaligus menyalakan kamera. Fitur di aplikasi kameranya lebih lengkap dibanding seri biasa.

Ponsel Sony Ericsson yang menonjolkan fitur kamera pada awalnya biasanya berkode K. K700i mungkin adalah ponsel SE yang masih memesona saya hingga sekarang. Walaupun belum berlabel Cybershot, K700i memiliki desain layaknya kamera saku digital. Desain yang disebut dual-front ini menjadi ciri khas Sony Ericsson. Kemudian keluar seri K750i yang juga tak kalah kerennya. Dia memiliki penutup lensa yang bisa digeser dan lampu flash dengan dua LED. Dilihat dari belakang, mirip dengan kamera digital. Dua ponsel yang hingga sekarang hanya menjadi impian saja. Dulu tak sanggup beli, sekarang eman-eman mau beli yang bekasnya. 😂

Seri Cybershot pertama yang beredar di Indonesia adalah K800i dan K790i.K800i bahkan dilengkapi lampu flash Xenon, sama seperti di kamera saku digital pada umumnya. Gila kan? Seri K kemudian dilanjutkan dengan seri C.
Desain dual-front, depan ponsel, belakang kamera digital, tidak hanya digunakan di seri K atau C saja. Smartphone seri P juga menggunakan desain dual-front. Ini juga ponsel keren. P800, P910, P990, P1, barangkali adalah Galaxy Note pada eranya. Desain stylish SE selalu menjadi kelebihan dibanding Nokia, Samsung, Siemens, atau LG. Walaupun jika dibandingkan dengan Nokia seri N yang masih sekelas dengan seri K atau C, SE selalu memiliki kekurangan pada softwarenya. Nokia menggunakan Symbian S60 sementara SE memiliki software sendiri.

Kembali ke soalan Cybershot. Saya pernah memiliki SE Cybershot. K770i. Ponsel Nokia yang masih pada level itu, jika dilihat dari resolusi kameranya adalah N73, ponsel paling ngehit pada saat itu. Sebetulnya ada sebuah ganjalan bagi saya mengenai label Cybershot ini. Kamera saku Sony Cybershot umumnya menggunakan lensa Carl Zeiss. Di ponsel, label Carl Zeiss justru identik dengan Nokia, yang bahkan berlanjut hingga Lumia 950 pada saat ini. Ponsel kamera andalan Nokia biasanya diberi embel-embel Carl Zeiss lens/optics. Hal yang mestinya akan semakin lengkap jika disematkan pada SE Cybershot atau smartphone Sony di saat ini.

Sayangnya, entah kenapa label Cybershot juga berakhir dengan beralihnya fokus Sony Ericsson dan kemudian Sony pada smartphone android. Walaupun sebagian besar smartphone Sony Ericsson atau Sony masih mempertahankan tombol shutter manual dan fitur di aplikasi kamera yang lumayan lengkap dan mungkin dengan antarmuka yang mirip dengan kamera digital Cybershot, namun rasanya sayang jika brand yang sudah dikenal di dunia fotografi tidak dimanfaatkan value nya di smartphone. Huawei dengan Leica, Nokia/Microsoft dengan Carl Zeiss, adalah contoh kolaborasi brand kamera dengan smartphone. Ya, mungkin integrasi label itu bagi Sony tidak penting. Bisa juga karena afa pengalaman integrasi yang tidak sukses. Xperia play.

Jika dulu desain dual-front pada ponsel itu keren, mungkin keren pada saat ini sudah berbeda trennya. Tak ada lagi atau sedikit smartphone yang memiliki desain mirip kamera saku. Apalah artinya desain, jika kemampuan yang dimiliki sudah menyamai atau bahkan lebih baik dari kamera saku digital. 🙂
#

Postingan ini dibuat gegara baper lihat SE Satio di bukalapak.com. 😂

Night Fury

Night Fury, begitu saya menamai Yamaha NMAX warna hitam yang sudah hampir enam bulan ini mengantarkan saya pulang pergi ngantor. Kalau kata saya sih emang mirip antara NMAX hitam dengan Night Fury, salah satu naga dalam film animasi How to Train Your Dragon. Dalam kondisi tidak terancam, Night Fury terlihat imut tidak mengancam. Begitu juga desain NMAX, menurut saya kalem tidak agresif sebagaimana desain motor Yamaha biasanya. Dalam tubuh Night Fury yang imut itu tersimpan tenaga dan kemampuan yang luar biasa. NMAX yang chubby itu tenaganya setara dengan Yamaha Byson. Walaupun gendut namun sebetulnya lincah, handlingnya ringan. Tenaga dan torsi yang dihasilkan mesin 155 cc dengan teknologi VVA membuatnya tetap gesit bermanuver.

max-fury

Balada Presario CQ42

Sudah lama nggak mengisi halaman ini. Mari kita mulai lagi.

Ya, Compaq Presario CQ42 itu masih bersama saya. Satu di antara beberapa barang elektronik yang bertahan lama, sudah hampir enam tahun. Bukannya awet, karena tak bisa mengganti saja. 😀 Laptop ini saya beli pada penghujung 2010, menggantikan Acer Aspire 4736. Sebetulnya, laptop ini tidak lah termasuk memuaskan. Terdapat berbagai masalah, bahkan sejak sebelum genap setahun dipakai. Windows error hingga lenyap, overheat, BSOD, baterai drop, hard disk rusak, keyboard rusak, dan sekarang optical drive nya yang sudah rusak… Pernah pakai Ubuntu sebelum menginstall kembali Windows 7, untung serial number masih bisa dipakai. Ganti hard disk, ganti keyboard. Mungkin kalau prosesornya bisa diganti, diganti sekalian ke Core i7 terbaru, 😀

Sejak ganti hard disk dan keyboard (di tahun berapa saya lupa) dan update ke Windows 8, laptop ini relatif tidak bermasalah (kecuali baterai yang belum diganti). Hingga akhirnya upgrade ke Windows 10, dan update lagi ke Windows 10 Anniversary Update. Semakin sayang untuk dilepas laptop ini. Sayang duit kalau beli baru, hehehe. Yah, walaupun hardware nya ketinggalan zaman dibanding dengan software-nya, namun yang membuat sayang adalah keaslian operating systemnya ~ karena upgrade ke Windows 8 beli asli seharga Rp850 ribuan :D.

Dalam waktu dekat, saya berencana menambah RAM menjadi 4 GB, mengganti baterai, dan mengganti keyboard lagi. Keyboard rusak lagi, ada tombol-tombol yang lepas, karena ulah gadis kecil berambut keriting yang lucu sekali bernama Muthi.

Hingga tidak dapat dipakai lagi, mungkin laptop ini akan saya pertahankan. Tetap bertahan dan bersiap siaga lah!

Mencoba Memahami “Kebijakan” Menaikkan Harga BBM Subsidi

Tags

, ,

I

Cepatnya Presiden kita menaikkan harga BBM bersubsidi (kurang dari sebulan masa pemerintahannya) membuat saya terkejut. Di sisi lain, juga salut terhadap keberanian beliau mengambil keputusan yang menurut saya sulit dan berat itu.

Saya mencoba memahami kebijakan yang diambil oleh Presiden Jokowi bahwa beliau ingin agar program-program yang direncanakannya dapat segera dijalankan. Menaikkan harga BBM bersubsidi atau dengan kata lain mengurangi belanja subsidi di dalam APBN adalah langkah tercepat yang bisa dilakukan untuk menyediakan alokasi anggaran untuk pos lain yang lebih produktif, lebih memberikan multiplier effect dalam perekonomian, misalnya belanja modal untuk infrastruktur.

Presiden mungkin tidak ingin menunggu (kalau boleh saya bilang) reformasi di bidang perpajakan/penerimaan negara (membentuk Badan Penerimaan Negara, meningkatkan otoritas dan wewenang institusi pemungut pajak, dll). Pembentukan institusinya saja perlu waktu (nggak mungkin dua minggu selesai, setahun saja sudah hebat); hasilnya pun belum pasti kapan.

Membuat kebijakan pembatasan penggunaan BBM bersubsidi dan/atau program konversi BBM ke gas juga perlu waktu (walaupun pada Pemerintahan SBY sudah digagas, bahkan uji coba – yang sayang sekali kita kurang tahu bagaimana tindak lanjutnya). Begitu pula hasilnya yang belum tentu berhasil.

Dengan menaikkan harga BBM sekarang, alokasi anggaran untuk program-program Presiden Jokowi paling cepat, IMHO, dapat dilakukan pada APBN-P 2015 – di mana di situ lah program Pemerintah yang sekarang dapat sepenuhnya mulai bisa dijalankan.

***

II

Sementara itu, ada juga persoalan, dalam banyak kajian disebutkan bahwa BBM bersubsidi lebih banyak dinikmati oleh golongan yang mampu. dengan kata lain, subsidi BBM dikatakan tidak tepat sasaran. Menurut saya, menaikkan harga bukanlah langkah untuk mengatasi ketimpangan itu. Solusi idealnya adalah melakukan pengendalian konsumsi BBM bersubsidi. Ini juga sudah digagas dan diuji coba oleh Pemerintahan SBY, namun lagi-lagi kita kurang mengetahui bagaimana selanjutnya.

Apakah dengan menaikkan harga dan mengendalikan konsumsi persoalannya selesai? Tidak juga. Ada keperluan untuk menjaga APBN tetap sehat wal afiat, tetap mampu menghadapi dan mengatasi gejolak dalam perekonomian. Ingat bahwa APBN juga mempunyai fungsi stabilisasi. Bagaimana APBN bisa menjadi stabilisator bilamana dia sendiri terguncang dengan gejolak harga minyak, kurs, dan nilai tukar ? Menaikkan harga BBM pada akhirnya hanya solusi sementara. Selama formula subsidi masih sama, gejolak harga minyak dan kurs akan selalu menghantui APBN.

***

III

Pada akhirnya, bagi saya, rasionalitas kebijakan menaikkan harga BBM bersubsidi adalah seperti yang saya utarakan pada bagian I. Naiknya harga BBM bersubsidi pasti akan diikuti dengan naiknya harga-harga secara umum, sebut saja namanya inflasi.  Kenaikan harga akan mencekik rakyat miskin. Seyogyanya Presiden Jokowi memberikan kompensasi kepada yang berhak menerimanya.

Saya juga berharap bahwa yang dilakukan tidak cukup hanya menaikkan harga BBM (yang kalau diperlukan pada saatnya diturunkan, TIGA kali). Program yang sudah digagas Pemerintahan SBY sebaiknya direalisasikan – pengendalian konsumsi, konversi ke gas, dll. Langkah Presiden Jokowi membentuk Tim Reformasi Tata Kelola Migas juga perlu diapresiasi, didukung, dan kita doakan bersama agar mencapai hasil yang maksimal.

Saya berharap, suatu saat nanti harga BBM bukanlah sesuatu yang menjadi masalah karena rakyat Indonesia memiliki kehidupan yang lebih sejahtera dan menggunakan banyak energi alternatif lain selain BBM.

***

Jika ada yang mengatakan “Harga minyak dunia sedang turun, kok Jokowi malah menaikkan harga BBM?”, saya malah jadi bertanya-tanya dalam diri saya jika saya yang jadi pengambil kebijakan: mana yang lebih baik, mengurangi subsidi pada saat harga turun atau mengurangi subsidi pada saat harga naik? Satu hal lagi yang saya pahami: dengan menaikkan harga BBM bersubsidi di saat harga minyak dunia turun, selisih harga BBM bersubsidi dan nonsubsidi menjadi kecil. Dengan begitu, mendorong orang (yang mampu) untuk pindah dari BBM subsisi ke nonsubsidi diharapkan lebih gampang, dan diharapkan seterusnya memakai BBM nonsubsidi.

Pertanggungjawaban Anggota Legislatif kepada Masyarakat

Tags

, , , ,

Sehari menjelang Pemilu Legislatif 2014, masih ada sebagian orang yang bingung hendak memilih partai apa atau siapa caleg yang akan dicoblosnya. Sebagian lagi ada yang memutuskan akan golput. Salah satu sebab kebingungan atau keputusan golput yaitu belum mengenal atau belum tahu profil caleg. Sebab lainnya, kecewa dengan partai atau anggota legislatif atau tidak tahu bagaimana kinerja partai/anggota legislatif di parlemen (DPR/DPRD).

Siang tadi, saya sempat diskusi dengan seorang rekan kerja mengenai kinerja anggota legislatif. Menurutnya, anggota legislatif perlu membuat laporan mengenai aktivitasnya kepada masyarakat, misalnya membuat semacam notulen atau laporan rapat-rapat yang diikuti. Laporan aktivitas itu kemudian dapat disampaikan kepada masyarakat melalui website dan masyarakat bisa memberikan komentar/masukan. Dengan demikian, masyarakat bisa tahu apa saja yang telah dilakukan oleh anggota legislatif tersebut dan keaktifannya di parlemen, serta mengetahui pendapat-pendapatnya atas suatu permasalahan.

Saya mempunyai pemikiran yang sama dengan rekan saya tersebut. Menurut saya, kinerja anggota legislatif semestinya diukur terutama dari keaktifannya di parlemen, apakah dia telah menjalankan tugasnya sesuai perannya sebagai anggota legislatif. Ukuran keaktifan berupa kehadiran dalam rapat di parlemen dan penyampaian pendapat-pendapatnya dalam rapat yang diikuti. Ketidakhadiran dan ketidakaktifan dalam rapat merupakan poin minus, karena rapat itu lah forum untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat. Seorang anggota legislatif mestinya menganggap rapat itu sebagai “fardhu ‘ain” bukan “fardhu kifayah” dalam arti jika sudah dihadiri rekan sefraksi maka gugur sudah kewajibannya. Saya mengharapkan setiap anggota legislatif hadir secara personal bukan perwakilan fraksi/partai dalam rapat-rapat karena bisa jadi mereka terpilih karena rakyat mencontreng atau mencoblos namanya, bukan partainya. Maka dari itu, pertanggungjawaban sebagai anggota legislatif kepada masyarakat juga harus dilakukan secara perorangan.

Saya berharap ada peraturan yang mengharuskan setiap anggota legislatif untuk membuat laporan kinerjanya secara perorangan kepada masyarakat. Anggota legislatif harus membuat laporan atas rapat-rapat yang diikuti serta pendapat-pendapat yang disampaikannya. Setiap kegiatan penyerapan aspirasi harus ada laporannya. Laporan kinerja itu dibuat sedemikian rupa sehingga masyarakat mudah mengaksesnya dan dapat memberikan feedback/masukan. Membuat website pribadi bukan lah perkara sulit. Pun bila perlu partai bisa memfasilitasi di website resmi partai.

Sudah saatnya bagus atau tidaknya anggota legislatif tidak cuma dilihat dari seringnya dia memberi bantuan saat terjadi musibah atau perjuangannya memperbaiki jalan di daerah pemilihannya. Dengan pertanggungjawaban yang jelas kepada masyarakat, saya yakin partisipasi masyarakat dalam Pemilu akan meningkat karena masyarakat tahu bahwa wakil yang akan mereka pilih bekerja dengan benar menyuarakan aspirasi mereka.

Semoga bermanfaat.